Rabu, 08 Februari 2012

Makna Tauhid kepada Allah (tauhidullah)



Syahadatain   merupakan  dasar  terpenting  untuk   tegaknya  totalitas  Islam. Islam tidak akan tegak  kalau  rukun-rukunya  (rukun  Islam)  tidak  tegak, sementara  rukun-rukun yang  empat (shalat, zakat, puasa dan haji) tidak akan tegak jika syahadatain  tidak  tegak secara  sempurna. Bahkan tidak ada  Islam  sebelum adanya syahadatain.

Syahadatain melambangkan jiwa totalitas Islam, laksana nyawa  yang merupakan nadi seluruh tubuh manusia. Seluruh anggota  tubuh  manusia  tidak akan bisa berfungsi sebagai seorang manusia yang  hidup  kalau  nyawanya  telah tiada. Begitu  juga kalimat Laa ilaha illallah Muhammadu Rasulullah,  merupakan ruh setiap aspek ajaran Islam.

Dengan  demikian setiap amalan seseorang muslim  yang  tidak  didasari dengan  hanya karena Allah ibarat  menanam  benih  yang  mati, yang tiada akan pernah tumbuh dan berbuah. Dan oleh karena  itu setiap amal kebajikan orang-orang kafir tidak ada harganya di  sisi Allah karena dianggap sebagai bangkai; Allah berfirman,

“Dan  Kami hadapi segala amal (baik) yang telah  mereka kerjakan, lalu kami  jadikan amal itu (bagaikan)  debu  yang berterbangan”. (25:23).

“Dan  orang-orang  kafir (tidak beriman), amal-amal  mereka laksana fatamorgana  di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang  yang  dahaga, tetapi bila didatanginya air  itu,  ia  tidak mendapatinya suatu apapun. Dan didapati ketetapan Allah  di sisinya,  lalu  Allah memberitakan  kepadanya perhitungan amal-amalnya  dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat  perhitungan-Nya”. (24:39).

Seorang  muslim,  betapapun dia  banyak  amal  kebajikannya,  tetapi  jika tidak didasari dengan ruh  syahadatain,  maka  amal  kebajikannya  menjadi sia-sia di sisi Allah, sebagaimana  sabda  Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya  pekerjaan  itu tergantung pada  niatnya,  dan  sesuatu  pekerjaan seseorang terletak pada niatnya. Barang  siapa  yang niat hijrahnya (jihadnya) karena Allah dan RasulNya, maka ia  dianggap hijrah kepada Allah dan RasulNya. Dan barang siapa  yang  berhijrah  (berjihad)  karena ingin dapat bagaian  dunia ataupun menginginkan wanita, maka ia akan dapatkan apa  yang ia hijrah (niatkan)”. (HR. Bukhari)

Mengingat  bahwa  syahadatain merupakan pintu  gerbang  bagi seseorang untuk masuk Islam dan  syahadatain  adalah dasar diterima atau ditolaknya amal seseorang di  sisi  Allah ,  disamping  ‘ilmu  dan  keikhlasan  dalam amal tersebut. Maka   menjadikan  penting  bagi  kita  untuk  memahaminya atau meluruskan  pemahaman  kita  terhadap makna kalimat  tersebut agar keimanan kita menjadi benar dan mantap.

MAKNA LAA ILAHA ILLALLAH 

1. Tinjauan Struktur Kalimat

Kalimat  tauhid  Laa ilaha illallah  terdiri dari rangkain kalimat sebagai berikut:

a). La

Sebagai  huruf  nafi yang  berfungsi menghapus/meniadakan sama sekali jenis Ilah dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya ilah.

b). Ilaha

Sebagai  kalimat (janis) yang  ditiadakan  (dinafikan), disebut al manfi  Sehingga bila dirangkaikan kedua kalimat tersebut : laa ilaha mempunyai pengertian:  meniadakan/menghapuskan  sama  sekali  terhadap segala macam, bentuk dan jenis ilah, seperti  halnya  kalimat  la tho’ama  mempunyai  pengertian: “Tidak ada sama sekali  makanan (jenis apapun)”.

c). Illa

Sebagai kalimat pengecualian di sebut istitsna yang berfungsi itsbat artinya menetapkan.

d). Allah

Sebagai kalimat yang dikecualikan disebut al mustaatsna  dari segala bentuk ilah yang ditiadakan.

Jadi  kalau  keseluruhan  kalimat  tersebut dirangkai menjadi laa ilaha  akan mengandung pengertian “Tiada sesuatu apapun yang patut di-ilahkan  (dijadikan ilah) kecuali hanyalah Allah satu-satunya yang wajib disembah”. Dengan demikian  dari uraian diatas dapat dipahami bahwa bisa jadi seseorang itu menjadikan ilah selain daripada Allah. Untuk itu dalam pembicaraan selanjutnya perlu kiranya dibahas tentang apa yang dimaksudkan dengan ilah  tersebut.

2. Makna “Ilah”

Secara bahasa kata ilah berasal dari alaha  yang  memiliki beberapa pengertian yang saling  terkait satu sama lain, yaitu:

-   Tenang dengannya
-   Minta pertolongannya (perlindungnnya)
-   Mencintainya
-   Rindu padanya
-   Beribadah  kepadanya

Dalam Al Qur’an dijelaskan dalam (13:28 / 72:61 / 2:165 / 2:67)
Sebagaimana dalam ungkapan-ungkapan:

- “Aku merasa tenang kepada si Fulan”
- “Seseorang memerlukan pertollongan dari kesusahan  yang  dialaminya”
- “Memfokuskan   kepada  seseorang  karena ia terlalu mencintainya”
- “Anak  unta  mencari  (merindukan)  ibunya  karena ia terpisah”
- “Beribadat”

Kaidah dalam bahas Arab menetapkan bahwa setiap kalimat yang mempunyai pertalian  merupakan satu rangkaian makna yang  satu sama lainnya saling  berkaitan. Misalnya kita tidak meminta pertolongan kepada seseorang  yang tidak kita anggap akan  mengasihi  kita dan lebih kuat dari kita. Begitupun ilah, yang menunjukan sifat sebagai berikut :

-   yang dapat memberikan ketenangan
-   yang dapat memberi pertolongan, perlindungan
-   yang dapat memberikan rasa cinta
-   yang dapat membangkitkan perasaan rindu
-   yang disembah.

Adapun ilah , bentuk masdar dari kata alaha yang mempunyai pengertian sembah memiliki  dasar  kata ‘abada, yang mengandung makna :

-   Al ‘abdu, berarti Dialah yang menjadi raja dan pemimpin seluruhnya.
-   Al ‘ibadah , berarti taat serta merendahkan diri.
-   Al-Mu’abbadu , berarti yang disembah, yang dimuliakan, yang  diagungkan..
-   ‘Abada bihi , berarti menghambakan diri dan harus minta tolong kepadanya.

Kalau kita perhatikan, makna yang berbeda dalam setiap komponen  tersebut  terdapat pertalian umum  satu  sama  lainnya, yaitu pengertian pengabdian. Orang  yang  mengabdikan diri kepada  Allah,  ia  pasti membesarkan  Allah, merendahkan diri  kepadaNya dalam seluruh kehidupannya. Maka perkataan ma’bud (              ) memberi arti :

-   Maha Kuasa
-   Maha Raja
-   Yang ditaati
-   Maha Agung
-   Tempat bergantungya semua Makhluq

Sehingga  dari uraian diatas, pengertian ilah, sebagaimana yang didefinisikan oleh Ibnu Taymiyyah rahimahullah adalah: “Ilah adalah sesuatu yang dicondongi / dicenderungi  oleh hati  dengan dicintai, ditakuti, diharapkan,  dan yang sejenisnya”.

3. Makna “Laa ilaha illallah”

Dari uraian di atas, maka dapat kita pahami bahwa apabila kita mengikrarkan kalimat tauhid Laa  ilaaha Illallah , berarti  kita telah bersumpah,  berjanji dan berikrar bahwa Allah-lah satu-satunya yang kita Ilah-kan, Allah-lah satu-satunya dzat  yang kita Ibadahi  dan Allah-lah satu-satunya dzat dimana kita mengabdi. Dengan kata lain, apabila kita  mengikrarkan kalimat tauhid laa ilaaha Illallah, mempunyai pengertian bahwa:

Pertama, kita  memahami  dan mengikrarkan bahwa Allah  SWT  itu  adalah satu-satunya:

-   Pencipta
-   Pemberi rizki 
-   Yang menghidupkan
-   Yang mematikan

Kedua, kita  meyakini dan menjadikan Allah SWT  sebagai  satu-satunya tempat/tujuan:

-   Penghambaan
-   Ketaatan
-   Pemberi hukum
-   Permohonan pertolongan
-   Perlindungan
-   Pengharapan

Dari  seluruh  uraian diatas, maka dapat  disimpulkan  bahwa  kalimat tauhid Laa ilaha Illallah  itu  juga  mengandung pengertian antara lain. :

1. Tiada Pencipta kecuali Allah
2. , Tiada Pemberi rizqi kecuali Allah
3. , Tiada Pengatur kecuali Allah
4. , Tiada Pemberi Hukum (yang Maha bijaksana) kecuali Allah
5. , Tiada Pelindung kecuali Allah
6. , Tiada yang menjadi Tujuan kecuali Allah
7. , Tiada Yang diibadahi (tempat mengabdi) kecuali Allah

MAKNA MUHAMMADUR RASULULLAH

Syahadatur rasul  merupakan  kesaksian  kita,  pengakuan dan keimanan kita kepada Muhammad bin Abdillah  SAW sebagai rasul/utusan dan Nabi Allah SWT. Karena Allah itu pencipta Yang Maha Tahu  akan  kelemahan-kelemahan ciptaannya, maka dalam rangka menjalankan tugasnya  di  bumi  (untuk  menghamba / mengabdi  dan  menjadi  kholifah), maka manusia diberikan petunjuk yang dikenal sebagai risalah  Islam  (Al Quran). Maka untuk menyampaikan petunjuk/wahyu tersebut diutuslah Muhammad sebagai penyampai risalah (5:67 / 72:26-28) sekaligus menjadi contoh/teladan satu-satunya (51:21) dalam pelaksanaan petunjuk (risalah Islam) tersebut.

Dengan  kata lain, Ikrar/syahdat kedua ini adalah  merupakan  janji/sumpah kita  untuk menjadikan Nabi  Muhammad  SAW  sebagai  satu-satunya teladan/contoh  dalam kehidupan yang kita  jalani agar sampai pada penghambaan kepada Allah yang  benar  dan  sempurna. Firman Allah:

-  “Apa yang diberikan Rasul kepadamu hendaklah kamu ambil, dan  apa yang dilarangnya  hentikanlah”. (59:7)

-  “Siapa  yang patuh kepada Rasul sesungguhnya ia telah  patuh  kepada Allah”. (4:80).

KESIMPULAN

Dari  uraian diatas, maka dapatlah  disimpulkan  bahwasannya  seseorang yang  benar-benar mengikrarkan  keislamannya  melalui  syahadatain akan memiliki ciri kehidupan yang khas.  Yang pertama  kali dapat dilihat adalah, dia  akan berdiri  atas  dasar  penghambaan dirinya kepada Allah SWT  semata  dalam  seluruh persoalan.  Dimana penghambaan  dirinya  ini  terlambang  dalam konsepsi kepercayaan,  demikian  juga   dalam   upacara  peribadatan,  sebagaimana juga terlambang dalam peraturan  hukum. “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, kehidupanku, kematianku, semuanya hanyalah bagi Allah  Tuhan  sekalian  alam. Ia tidak berserikat. Demikianlah saya diperintah. dan  saya  adalah orang pertama islam”. (6:162-163).

***&&***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar