Minggu, 26 Februari 2012
Hidup di Bawah Naungan al-Quran
Bicara tentang al-quran, tidak terlepas dari kejayaan umat islam yang telah tercatat dalam sejarah. Kejayaan islam adalah murni karena al-Quran, bukan karena kekuatan fisik, kejeniusan, atau nasionalisme. Tatkala al-Qur’an terlepas dari genggaman umat Islam, maka tercampaklah kekuatan itu bahkan sebagaian besar masuk dalam kubangan lumpur jahiliyah. Hancurnya kekuatan ini, bukanlah karena al-Quran, karena al-Quran sudah lengkap dan terpelihara huruf demi huruf, melainkan karena sebagain umat belum mengenal al-Quran dengan baik.
Bagaimana mungkin bisa mencintai al-Quran kalau tidak mengenalnya. Maka untuk itu, mari sedikit mengenal tentang ilmu al-Quran.
Nama al-Quran
* Al-Karim / bacaan mulia (al-Waqiah/56:77). Membaca al-Quran akan mendapatkan kebaikan.
* Al-kitab (al-Baqarah 2). Berupa susunan yang terdiri dari surat dan juz. Ada awal dan akhir. al-Quran bukanlah sembarangan kitab, sehingga cara berinteraksinya berbeda dengan kitab / buku lain.
* Kitab Aziz (Fushilat 41, 41), sangat mulia dan memuliakan, karena diturunkan langsung dari Allah SWT.
* Ad-Dikr /Peringatan (al-Hijr 15: 9)
* Nuron Mubin (An-Nisa 174), cahaya yang nyata
* Ruh / spirit / nyawa (as-syura 42:52). Manusia yang tidak mengenal al-Quran maka ia tidak memiliki ruh atau seperti mayat.
Fungsi al-Quran
* Hudan / Petunjuk hidup (al-Baqarah 2). Agar tidak sesat dan dzalim seperti yahudi dan nasroni hindari
* Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya (Ibrahim 14,1)
* Menjelaskan petunjuk hidup dan perbedaan antara haq dan bathil (al-Baqarah 185)
* Obat (al-Isra 17: 820, baik obat fisik atau psikis
* Rahmat (al-Isra 82), Kasih sayang Alloh akan melimpah kepada kita dalam jalan hidup selamat dunia dan akhirat
Kandungan al-Quran
* Menjelaskan hakikat pencipta manusia dan alam semesta, dunia (malaikat, jin, setan, hewan, Iman, syirik, kufur nifaq).
* Sisten hidup, hubungan manusia, hukum, pendidikan, sosial muamalah (ekonomi dan bisnis).
* Akhlaq pribadi, rumah tangga dan sosial
* Kisah dan fakta nabi dan umat sebelumnya
* Isyarat cabang ilmu alam dan humaniora
* Berita futuristik
* Tipologi malaikat, manusia, ahli kitab, jin, setan
* Hakikat pertarungan hak dan batil
* Penjelasan rinci kiamat dan akhirat surga neraka
Focus al-Quran
* Pembentukan berfikir ilmiah. Kekufuran menodai kecerdasan manusia untuk memilih mana baik buruk. Misalnya mengukir benda dan hasilnya di sembah sebagai Tuhan, menyembah matahari, menuhankan nabi Isa, dll
* Larangan pada praduga dan kira-kira
* Larangan mengikuti hawa nafsu dan perasaan
* Larangan taklid buta pada senior dan peninggalan nenek moyang
* Larangan taat buta pada para pemimpin dan para pembesar / tokoh
* Perintah menggunakan akal sebagai alat memahami
* Perintah meneliti, mempelajari, dan memanfaatkan potensi bumi, langit dan isi keluarganya.
Kunci hidup di bawah naungan al-Quran
* Berintaraksi dengan al-Quran secara intensif dengan membaca, memahami, mengamalkan, menghafal dan mengajarkan.
6 Kunci Sukses
* Meyakini kebenaran al-Quran
* Menyadari sebagai firman Allah
* Membaca setiap hari
* Memahami isi al-Quran dengan baik dan benar
* Mengamalkan petunjuk-petunjuk al-Quran dari yang bisa
* Merasakan kebenaran isinya dalam kehidupan
Kata Hikmah
Kehidupan di bawah al-Quran merupakan kenikmatan yang tidak akan dipahami dan diketahui kecuali oleh orang yang merasakannya (Sayid Qutub)
***88***
Sabtu, 25 Februari 2012
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bissmillahirrahmanirrahim
Allah swt berfirman :
"Berdoalah kepada Rabb-mu dngan berendah diri dan suara yang lmbut. Sesungguhnya Allah tidak mnyukai orang yg melampaui batas" (QS. Al-A'raaf : 55)
Allah swt berfirman :
"Dan demikianlah Kami jdkan tiap2 nabi itu musuh, yaitu syetan2 (dr jenis) manusia dan (dr jenis) jin, sebagian mrkan mmbisikkan kpda sbgian yg lain perkataan2 yg indah2 untuk mnipu (Manusia).Jikalau Rabbmu mnghendaki. Niscya mrka tdk mngrjakannya, mka tinggalkan mrka dan apa yg mrka ada2kan." (QS. Al-An'am (6):112)
Rasulullah saw bersabda :
"Perjlnan mnju) neraka dpnhi hmparan syahwat ksnangan (yg mmbius),sdgkan (prjlnanan mnju) syurga dipnhi liku2 kslitan (yg sring mnggentarkan)" (HR. Al- Bukhari dan Muslim)
***888***
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hukum Mengejek dalam Bercanda
Tidak boleh. Meski dimaksudkan untuk humor (canda), mengejek (olok-olok, menghina) itu tidak boleh.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengo...lok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al Hujurat: 11).
Batasan humor dalam Islam, selain tidak boleh dengan cara menghina, juga tidak boleh mempermainkan risalah Islam dan tidak boleh berdusta (mengarang cerita bohong).
“Dan jika kamu tanyakan mereka ( tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan main-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat –Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”( QS.At-Taubah:65 ).
“Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celaka dia, celaka dia.” ( HR.Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim ). Wallahu a’lam.*
***&&***
Hukum Ghibah (Membicarakan Kejelekan Orang Lain) dalam Islam
ghibah
Apakah ghibah itu? Jawabannya dapat kita temukan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini : --Rasulullah bersabda, “Tahukan kalian apa itu ghibah?”, mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahi-nya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim) --
Dalil-dalil keharaman ghibah dan bahayanya.
Ghibah termasuk perbuatan dosa besar, hal ini bisa ditemukan keterangannya pada ayat dan hadist berikut ini :
1. Allah ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat : 12)
2. “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur – 19)
3. Di dalam Sunan Abu Dawud tercantum sebuah hadist yang diriwayatkan dari jalan ‘Aisyah. Beliau berkata : “Wahai Rasulullah, cukuplah menjadi bukti bagimu kalau ternyata Shafiyah itu memiliki sifat demikian dan demikian.” Salah seorang periwayat hadist menjelaskan maksud ucapan ‘Aisyah bahwa Shafiyah itu orangnya pendek. Maka Nabi SAW bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan sebuah kalimat yang seandainya dicelupkan ke dalam lautan maka niscaya akan merubahnya.”
4. Di dalam Sunan Tirmidzi terdapat riwayat yang menceritakan hadist dari jalan Ibnu ‘Umar, beliau berkata : Rasulullah SAW naik mimbar dan menyeru dengan suara lantang, “Wahai segenap manusia yang masih beriman dengan lisannya namun iman itu belum meresap ke dalam hatinya janganlah menyakiti kaum muslimin. Dan janganlah melecehkan mereka. Dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari kejelekan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengorek-ngorek kesalahannya. Dan barang siapa yang dikorek-koorek kesalahannya oleh Allah maka pasti dihinakan, meskipun dia berada di dalam bilik rumahnya.”
5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalain semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah semua kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka. Karena siapa saja yang mencari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang akan diintai Alah kekurangannya maka pasti Allah akan ungkapkan, meskipun dia berada dalam rumahnya.”
6. Rasulullah SAW bersabda : “Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya,” Bagaimana ghibah lebih keras daripada zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alah mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.”
7. Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah SWT akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (malakukan sesuatu yang dapat membebaskannya).” (HR. Ahmad)
8. Rasulullah SAW bersabda : “Ketika aku di-mi’raj-kan aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Dengan kuku-kuku itu mereka mencakar-cakar wajah dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku berkata, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” . Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang berani memakan daging-daging menusia serta menjatuhkan kehormatan dan harga diri orang lain.” (HR. Abu Daud)
***88***
Senin, 20 Februari 2012
Siapakah Mahram Bagi Wanita
Setelah penulis menyentuh persoalan aurat dan ikhtilath, berikut penulis bawakan pula siapakah yang dimaksudkan sebagai mahram bagi seseorang wanita. Sekaligus ia juga akan menjelaskan setakat mana sebenarnya batas aurat seorang wanita di hadapan mahramnya.
Definisi mahram (bagi wanita)
Secara bahasa, seseorang disebut sebagai mahram bagi seorang wanita adalah apabila orang itu tidak halal untuk menikahi wanita tersebut buat selamanya.
Adapun secara istilah, mahram bagi seorang wanita adalah laki-laki yang boleh memandangnya, berdua dengannya, boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, dan juga mereka yang diharamkan bernikah dengannya buat selamanya dengan sebab fitrah yang menjadikannya mahram.
Ketetapan ini berlaku sama ada disebabkan ikatan nasab (keturunan) seperti ayah dan anak lelakinya, sebab ikatan perkahwinan seperti suami dan suami dari anak perempuannya serta anak lelaki suaminya, atau pun dengan sebab penyusuan seperti anak yang disusukannya serta saudara lelaki sepersusuan.
Berikut Adalah Perinciannya
Melalui ayat 23-24 Surah an-Nisaa’ berikut ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan beberapa tambahan siapa dia mahram selamanya hasil ikatan perkahwinan, penyusuan, dan nasab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (٢٣) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Diharamkan atas kamu (mengahwini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban, dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya setelah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah an-Nisaa’, 4: 23-24)
Kata al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah:
Ayat yang mulia ini menjelaskan haramnya mahram disebabkan nasab (keturunan) dan sebab-sebab lain yang mengikutinya berupa penyusuan dan pernikahan. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata. “Diharamkan ke atas kamu tujuh wanita kerana nasab dan tujuh wanita lagi kerana pernikahan.” Kemudian beliau membaca, “Diharamkan atas kamu (mengahwini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan...” sehingga akhir ayat.
Ath-Thabari meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Yang diharamkan kerana nasab ada tujuh, dan yang ekrana pernikahan juga ada tujuh. Kemudian beliau membaca ayat, “Diharamkan atas kamu (mengahwini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan.” Mereka adalah mahram dengan sebab nasab.
Firman Allah, “ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.” Sebagaimana diharamkan atas kamu ibu-ibu yang melahirkan kamu, maka demikian juga diharamkan ke atas kamu ibu-ibu yang menyusui kamu.” (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir, 2/247-248)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan (menjaga) pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan (melabuhkan) kain tudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau anak-anak lelaki mereka, atau anak-anak lelaki suami mereka, atau saudara (adik-beradik) mereka yang lelaki, atau anak-anak saudara lelaki mereka, atau anak-anak lelaki saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau hamba-hamba yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau kanak-kanak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (Surah an-Nuur, 24: 31)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bolehnya mahram yang disebutkan melihat bahagian perhiasan (aurat tertentu) dari tubuh wanita. Iaitu sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat:
“... dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan (melabuhkan) kain tudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka...”
Di antara hikmah bolehnya wanita tidak menutup bahagian aurat tertentu di hadapan mahram adalah bagi memudahkan pelbagai urusan mereka. Di mana antaranya kerana mereka sentiasa berada bersama bercampur-baur dan keluar-masuk di dalam rumah yang sama. Serta juga dengan sebab hubungan kekerabatan yang rapat dan keadaan yang aman dari fitnah. Wallahu a’lam.
Terdapat sebahagian ulama menyatakan bahawa pak cik dari pihak bapa atau dari pihak ibu tidak termasuk mahram yang dibolehkan untuk tidak menutup aurat (membuka khimar) di hadapannya. Ini antaranya kerana pak cik dari sebelah ibu mahupun bapa tidak disebutkan dalam Surah an-Nuur di atas.
Ini adalah sebagaimana apa yang disebutkan oleh al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah:
عن الشعبي وعِكْرمَة في هذه الآية: { وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ } -حتى فرغ منها قال: لم يذكر العم ولا الخال؛ لأنهما ينعَتان لأبنائهما، ولا تضع خمارها عند العم والخال فأما الزوج فإنما ذلك كله من أجله، فتتصنع له ما لا يكون بحضرة غيره.
Ibnul Mundzir meriwayatkan atsar daripada asy-Sya’bi dan ‘Ikrimah berkenaan ayat ini, (kata beliau) “Pada ayat ini Allah tidak menyebutkan pak cik dari pihak bapa atau pak cik dari pihak ibu. Kerana hukum pak cik dari pihak bapa atau pak cik dari pihak ibu mengikuti anak-anak pak cik mereka (sepupu). Dengan demikian, mereka tidak boleh melepaskan khimar (tudung) ketika berhadapan dengan pak cik dari pihak bapa atau pak cik dari pihak ibu.
Adapun suami tentu dibolehkan kerana setiap perilaku isteri dalam menjaga kehormatannya adalah termasuk dalam rangka berbakti untuk suaminya. Dengan itu, isteri boleh melakukan apa sahaja di hadapan suaminya, selama mana tanpa kehadiran lelaki lain bersamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/47)
Namun, (lebih tepat) kebanyakan ulama berpendapat bahawa mereka (pak cik dari pihak ayah atau dari pihak ibu) adalah sama hukumnya dengan mahram yang lainnya dengan berdalilkan hadis daripada ‘Urwah dan ‘Aisyah berkenaan hukum penyusuan. Begitu juga sebagaimana dijelaskan dalam Surah an-Nisaa’, ayat 23-24 di atas.
‘Urwah menyatakan bahawa ‘Aisyah telah mengkhabarkan kepadanya:
أَنَّ عَمَّهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ يُسَمَّى أَفْلَحَ اسْتَأْذَنَ عَلَيْهَا فَحَجَبَتْهُ فَأَخْبَرَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا لَا تَحْتَجِبِي مِنْهُ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ
“Sesungguhnya pak cik sepersusuannya yang bernama Aflah meminta izin untuk menemuinya tetapi dia menutup diri darinya. Lalu beliau mengkhabarkan perkara tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Rasulullah pun bersabda, “Janganlah kamu menutup (menghijab) diri daripadanya kerana sesungguhnya apa yang diharamkan kerana hubungan penyusuan adalah sama seperti apa yang haram kerana hubungan nasab.” (Hadis Riwayat Muslim, 7/335, no. 2621)
Dalam riwayat yang lain, ‘Aisyah berkata kepada ‘Urwah:
اسْتَأْذَنَ عَلَيَّ أَفْلَحُ بْنُ قُعَيْسٍ فَأَبَيْتُ أَنْ آذَنَ لَهُ فَأَرْسَلَ إِنِّي عَمُّكِ أَرْضَعَتْكِ امْرَأَةُ أَخِي فَأَبَيْتُ أَنْ آذَنَ لَهُ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِيَدْخُلْ عَلَيْكِ فَإِنَّهُ عَمُّكِ
“Aflah B. Qu’ais meminta izin untuk masuk menemuiku tetapi aku enggan membenarkannya. Lalu ia mengirimkan pesanan, “Aku adalah pak cik kamu di mana isteri saudara lelakiku telah menyusukanmu.” Tetapi aku tetap tidak membenarkannya (untuk menemuiku).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang, lalu aku ceritakan perkara tersebut kepada beliau. Dan beliau pun bersabda, “Biarkanlah ia masuk menemuimu kerana dia adalah pak cik kamu (kerana hubungan penyusuan).” (Hadis Riwayat Muslim, 7/336, no. 2622)
Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) berkata:
“Hadis-hadis ini sama dalam perkara menetapkan keharaman seseorang untuk dinikahi dengan sebab penyusuan. Semua ulama juga turut bersepakat adanya keharaman tersebut antara anak yang disusukan dan perempuan yang menyusukan. Anak yang disusukan menjadi anak bagi perempuan yang menyusukannya sehingga haram untuk dinikahi selamanya. Si anak boleh memandang perempuan tersebut, berduaan dengannya, dan juga melakukan perjalanan (safar) bersamanya. Tetapi tidaklah berlaku hukum status sebagai ibu dari setiap sisi di mana keduanya tidak saling mewarisi, masing-masing tidak wajib memberi nafkah kepada yang lain...
... Para ulama juga sepakat tentang keharaman untuk melakukan pernikahan di antara ibu yang menyusukan dengan anak-anak susuannya, begitu juga antara anak yang menyusu dengan anak-anak dari ibu yang menyusukannya. Dalam perkara ini mereka seperti anak-anak kandung berdasarkan hadis-hadis ini.
Begitu juga dengan lelaki yang disandarkan kepada si ibu kerana statusnya sebagai suami si ibu yang menyusukan si anak tadi....
Maka mazhab kami dan mazhab ulama seluruhnya menyatakan dengan sebab penyusuan tersebut, haram melaksanakan pernikahan di antara lelaki tersebut dengan anak-anak yang menyusu kepada isterinya. Si anak menjadi anak bagi lelaki (suami) tersebut. Anak-anak dari lelaki tersebut menjadi saudara bagi anak yang menyusu kepada isterinya. Saudara lelaki dari lelaki tersebut menjadi pak cik baginya. Saudara perempuan lelaki tersebut menjadi mak cik baginya. Anak-anak dari anak yang menyusu kepada isterinya menjadi cucu kepada si lelaki tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 10/19)
Berikut diringkaskan senarai mahram yang disebutkan oleh kedua-dua ayat tersebut berserta hadis-hadis berkaitan penyusuan. Dari ayat 31 Surah an-Nuur, Allah Subhanahu wa Ta’ala memulakannya berdasarkan turutan berikut:
1 – Suami. Adapun setiap perilaku isterinya dalam menjaga kehormatannya adalah termasuk juga dalam rangka berbakti untuk suaminya. Dengan itu, isteri boleh melakukan apa sahaja (bukan sekadar melepaskan apa yang menutup auratnya) di hadapan suaminya selama mana tiada individu lain atau lelaki lain bersama mereka.
2 – Bapa, termasuk datuk. Sama ada datuk dari pihak ibu ataupun ayah.
3 – Bapa suami (bapa mertua).
4 – Anak-anak mereka dan anak-anak suami mereka. Termasuklah cucu dan seterusnya.
5 – Saudara (adik-beradik) secara mutlak, sama ada saudara kandung, saudara se-bapa, saudara se-ibu, dan seterusnya ke bawah seperti anak-anak mereka dan cucu mereka.
6 – Anak-anak saudara lelaki (anak saudara) dan anak-anak saudara perempuan. Iaitu anak-anak dari adik, kakak, atau abang mereka.
7 – Pak cik dari pihak bapa mahupun dari pihak ibu.
8 – Mahram kerana penyusuan. Para ulama bersepakat bahawa mereka sama seperti mahram yang lainnya.
9 – Termasuk mahram yang diharamkan nikah dengannya untuk selamanya adalah seperti bapa mertua, suami anak-anak perempuan mereka (menantu lelaki), dan suami ibu mereka (ayah tiri yang telah bergaul bersama-sama ibunya).
Selain dari mereka yang disebutkan, maka tidak termasuk mahram.
Batasan Aurat Yang Boleh dilihat Oleh Mahram
Ibnu Qudamah menyatakan, “Mahram boleh melihat sesuatu yang biasa nampak dari aurat seseorang wanita seperti anggota-anggota wudhu’nya.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 6/554)
Daripada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anha, berliau berkata:
كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيعًا
“Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaksanakan wudhu’ secara bersama-sama.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 1/327, no. 186. Bab: Seorang lelaki berwudhu’ bersama-sama isterinya)
Kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, “Dalam hadis tersebut terdapat suatu penjelasan yang menunjukkan seseorang lelaki boleh melihat anggota-anggota wudhu’ bagi mahramnya, demikian juga sebaliknya.” (Ibnul Jauzi, Jami’ Ahkam an-Nisaa’, 4/195)
Manakala sebahagian pandangan yang lain menyatakan bahawa mahram dibolehkan melihat wanita melainkan aurat di antara pusat dengan lutut. Dan sebahagian pandangan lagi menyebutkan mahram dibolehkan melihat pada wanita kecuali tubuh (aurat) di antara dada dengan lutut. Wallahu a’lam.
Dengan itu, seseorang mahram boleh melihat seorang wanita berdasarkan penjelasan di atas dengan syarat bukan dalam keadaan bersyahwat dan timbulnya fitnah. Sekiranya syahwat dan fitnah berlaku, maka perkara tersebut adalah terlarang dan perlu dihindari.
Atau dengan kata lain, seseorang wanita diwajibkan menutup seluruh tubuhnya ketika di hadapan mahram melainkan pada bahagian yang menjadi anggota wudhu’nya maka ia dibolehkan terbuka. Tetapi sekiranya membuka sebahagian aurat tersebut boleh menyebabkan datangnya fitnah dan syahwat, maka menutup seluruh tubuh adalah yang terbaik kerana mengelakkan fitnah dan syahwat itu sendiri termasuk sebahagian dari tujuan asal menutup aurat.
Penjelasan ini antaranya penulis ambil daripada Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, pada kitabnya Fiqhus Sunnah lin Nisaa’. Buku ini telah diterjemahkan oleh beberapa penerbit antara Pustaka Ibnu Katsir dengan judul Ensiklopedi Fiqih Wanita dan Fiqih Sunnah Wanita oleh penerbit Griya Ilmu.
Penutup
Kesimpulannya, wanita dibenarkan tidak menutup di bahagian tertentu pada auratnya apabila berdepan dengan mahram. Dan wajib mengenakan penutupan aurat dengan sempurna kepada selain mahram iaitu kepada sebagaimana individu yang dijelaskan di atas. Ada pun penutupan aurat dengan sempurna, bolehlah merujuk semula kepada artikel sebelumnya.
Selain itu wanita juga dibolehkan bersalaman, berkenderaan, dan bermusafir bersama mahramnya.
Wallahu a’lam.
Sabtu, 18 Februari 2012
Malu dan cemburu dalam bingkai Islam
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabaratuh
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه, وبعد
Di antara bukti kebaikan-kebaikan Dien kita ini adalah perhatiannya terhadap etika yang terpuji. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق / رواه الإمام أحمد
"Aku telah diutus semata untuk menyempurnakan akhlaq yang baik" (HR.Ahmad)
Ketika Nabi diutus, beliau pun menetapkan perangai-perangai yang indah yang ada pada masyarakat jahiliah dan menghilangkan yang buruk, serta meluruskan yang perlu untuk diluruskan.
Dan di antara akhlaq mulia yang disifati oleh masyarakat jahiliah adalah: 'kecemburuan' lelaki terhadap mahramnya. Bahkan sebahagian dari mereka ada yang berlebihan dan melampaui batas, hingga ada yang sampai pada batas mengubur bayi perempuan mereka hanya karena rasa khawatir anaknya akan terjerumus pada perbuatan keji jika ia besar nanti.
Maka syariat pun melarang hal tersebut, kemudian meluruskan sifat cemburu itu dan menjadikannya di antara cabang keimanan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لا شيء أغير من الله / رواه الإمام أحمد والبخاري
"Tidak ada sesusatu pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR.Imam Ahmad dan al-Bukhari)
Beliu bersabda :
إن الله يغار, وإن المؤمن يغار, وغيرة الله أن يأتي المؤمن ما حرم الله عليه / رواه الإمام أحمد والبخاري ومسلم
"Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu'min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya" (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)
Beliau bersabda dalam khutbahnya ketika terjadi gerhana matahari :
يا أمة محمد, ما أحد أغير من الله / رواه البخاري ومسلم
"Wahai ummat Muhammad, tak seorang pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
إن من الغيرة ما يحب الله.../ رواه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي
"Sesungguhnya ada di antara sifat cemburu yang Allah cintai…" (HR.Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa'i)
Dan ketika Saad bin Ubadah berkata :"Andai aku mendapati seorang lelaki bersama istriku, pasti ia akan kutebas dengan mata pedangku," Nabi pun bersabda, "Apakah kalian kagum dengan kecemburuan Saad?, sesungguhnya Aku lebih pecemburu darinya, dan Allah lebih pecemburu dariku."(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabat telah menghiasi diri-diri mereka dengan etika nubuwah ini dan berpegang teguh dengannya, sama halnya dengan kewajiban-kewajiban beriman beserta cabang-cabangnya. Maka bukanlah hal yang aneh jika seseorang di antara mereka membunuh atau dibunuh lantaran menjaga perkara ini.
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa seorang wanita dari bangsa Arab datang ke pasar untuk menjual barang dagangannya, ia menjualnya di pasar Bani Qainuqa' (salah satu kabilah yahudi), ia pun duduk di dekat tukang emas. Maka orang-orang yahudi menginginkan agar wajahnya tersingkap, akan tetapi ia menolak. Tukang emas itu pun sengaja mengikat kedua ujung kainnya ke punggungnya tanpa ia sadari, sehingga ketika wanita itu berdiri nampaklah auratnya. Mereka pun menertawakannya, maka wanita itu berteriak. Seorang lelaki dari kaum muslimin melompat dan lanngsung membunuh tukang emas yahudi itu, kemudian orang-orang yahudi pun membunuhnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka dan mengepungnya hingga mereka tunduk di bawah perintahnya, kemudian mengusir mereka ke negeri Syam.
Beginilah para salaf (pendahulu) ummat ini berlalu. Dan kaum muslimin tidak lemah dan atau berlebihan dalam mengaplikasikan akhlak ini meskipun pada masa-masa surut yang di lalui ummat Islam. Tatkala kaum Salibis menjajah sebagian kepingan wilayah kaum muslimin di negeri Syam -penjajahan yang berlangsung selama kurang lebih dua abad dan masa yang terkadang menumbuhkan kekhawatiran di hati bahwa mereka akan tatap menjajah hingga turunnya Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam- ahli sejarah mencatat bahwa kaum muslimin memandang orang-orang Salibis dengan tatapan hina dan rendah, dan bahwa mereka adalah 'Dayayits'; seseorang di antara mereka berjalan bersama istrinya, kemudian bertemu dengan kawan lelaki istrinya, maka sang suami berdehem agar memberi kesempatan kepada sang istri untuk bercakap dengan kawannya semau mereka.
BEBERAPA GAMBARAN KURANGNYA SIFAT CEMBURU
Dan kita di negeri ini semoga Allah memakmurkannya dengan ketaatan dalam perkara ini, masih lebih baik dari yang lainnya, meskipun ada sebahagian orang yang begitu jelas kelalaiannya.
Anda bisa melihat, di antara mereka ketika di atas mobil, istrinya turun dan bercakap panjang lebar padahal ia seharusnya menemaninya.
Ada yang istrinya bercampur baur dengan lelaki asing ; dengan sopir mobil, penjual di toko, dokter di klinik, atau selainnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersanda:
ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان / رواه الإمام أحمد والترمذي
"Ketahuilah, bahwa tidaklah berdua seorang lelaki dan perempuan kecuali pihak ketiganya adalah setan" (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)
Demikian pula seorang lelaki yang membiarkan istrinya atau siapa yang saja yang merupakan tanggung jawabnya keluar rumah dengan memakai pakaian yang menampakkan sebahagian anggota badan, atau lekuk tubuhnya dengan pakaian ketat atau tipis.
Demikian halnya gambaran kurangnya rasa cemburu adalah keluarnya para lelaki bersama istri-istri mereka atau dengan mahramnya yang lain ketempat-tempat umum yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan non mahram) dan saling memandang di antara mereka.
Dan seorang lelaki membiarkan istrinya bepergian tanpa ditemani mahram. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها محرم, ولا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم
"Tidaklah bercampur seorang lelaki dengan seorang wanita kecuali disertai mahram, dan tidak bepergian seorang wanita kecuali bersama mahram"
Seorang lelaki berdiri dan berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku berangkat untuk berhaji, dan aku telah tercatat dalam peperangan ini dan ini," maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
انطلق فحج مع امرأتك...
"Kembali dan berhajilah bersama istrimu" (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Sahabat ini adalah seorang mujahid (yang sedang berjihad) di jalan Allah Azza wa Jall, kemudian Nabi menyuruhnya meninggalkan medan jihad untuk kembali menemani istrinya yang tengah melaksanakan perjalanan mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Meski dengan kelembutannya, mereka adalah orang-orang yang paling suci dan bertaqwa, padahal sang istri pun telah berangkat dan berlalu, namun demikian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata "kembali dan berhajilah bersama istrimu."
PENYEBAB SEMUA ITU
Gambaran tersebut diatas adalah fakta yang telah terjadi dan disaksikan. Maka jelaslah bahwa hal yang sangat penting wa lillahilhamd adalah menjaga kehormatan dan cemburu atasnya. Dan apakah penyebab hilangnya pada sebagian orang sifat cemburu dan rasa malu?, sebelum membahas hal ini, kita akan berbicara tentang kedudukan dan posisi malu dalam ad-dien ini.
SIFAT MALU
Malu adalah salah satu cabang keimanan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang kurang rasa malunya berarti bukti lemah imannya. Dalam as-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
الحياء لا يأتي إلا بخير
"Tidaklah muncul rasa malu kecuali dengan kebaikan"
Pada riwayat Muslim :
الحياء خير كله
"Malu itu baik semuanya"
Diriwayatkan dari Salman al-Farisi radiallahu 'anhu bahwa Beliau berkata:
إن الله إذا أراد بعبد هلاكا نزع منه الحياء, فإذا نزع منه الحياء, لم تلقه إلا مقيتا ممقتا
"Sesungguhnya jika Allah menginginkan kehancuran terhadap seorang hamba, Ia akan mencabut sifat malu darinya, maka jika sifat malu itu telah diangkat darinya, kamu 'tak 'kan menemuinya kecuali (ia dalam keadaan) dibenci dan memuakkan"
Seorang penyair berkata:
فلا والله ما في العيش خير ولا الدنيا إذا ذهب الحياء
يعيش المرء ما استحيا بخير ويبقى العود ما بقي اللحاء
Sekali-kali tidak demi Allah tak ada kebaikan dalam hidup dan tidak pula Dunia, jika malu telah hilang.
Selama ada rasa malu, orang akan hidup baik, namun tidak bagi yang bermuka tebal.
Penyair lain berkata :
إن كأني أرى من لا حياء له ولا أمانة وسط الناس عريانا
Sungguh aku melihat orang yang tak punya rasa malu dan tak amanah telanjang di tengah-tengah manusia
Dan kurangnya rasa malu -terlebih khusus bagi kaum wanita- memiliki sebab, di antaranya:
* Kelalaian dalam mendidik di masa kecil. Bisa karena biasa, siapa yang terbiasa pada masa kecilnya, ia akan membawanya hingga ia beruban.
* berinteraksi dan berbicara dengan laki-laki ajaanib (bukan mahram).
Bergaul dengan orang yang kurang rasa malunya, atau selalu menyaksikan mereka akibat seringnya bepergian, atau melihatnya di pasar-pasar, di tempat-tempat hiburan, atau karena menonton sinetron dan selain dari itu. Sebab, akhlaq baik buruknya- adalah hasil pergaulan.
* Dan mungkin penyebab utamanya adalah: terlalu seringnya seorang wanita keluar rumah, Allah 'Azza wa Jall berfirman :
وقرن في بيوتكن / الأحزاب : 33
"Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian…!" (QS.al-Ahzab :33)
At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
المرأة عورة وإنها إذا خرجت من بيتها استشرفها الشيطان, وإنها لا تكون أقرب إلى الله منها في قعر بيتها
"Wanita adalah aurat, jika ia keluar rumah syaitan akan menghiasinya, dan ia tidak lebih dekat kepada Allah dari luar rumah nya dari pada di dalam rumahnya"
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لا تمنعوا نساءكم المساجد, وبيوتهن خير لهن / رواه الإمام أحمد وأبو داود
"Janganlah melarang wanita-wanita kalian untuk ke Masjid, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka" (HR. al-Imam Ahmad dan Abu daud)
Berkata al-Hafidz ad-Dimyati rahimahullah: "Ibnu Khuzaimah dan sekelompok para 'ulama telah menerangkan dengan jelas bahwa shalat di rumahnya (bagi wanita) lebih afdhal dari shalat di masjid, walaupun di masjid Makkah, Madinah atau Bait al-Maqdis"
Maka hendaklah berhati-hati bagi yang berakal dan bijaksana, bahwa apa yang telah mewabah pada sebagian negeri kaum muslimin dari kerusakan dan hilangnya rasa malu tidaklah terjadi dalam satu ledakan, tetapi ia berawal dari sesuatu yang teramat sederhana kemudian terjadilah apa yang telah terjadi.
Selanjutnya – wahai muslim- aplikasikanlah persaksianmu bahwa Muhammad adalah Rasul Allah dengan membenarkan apa yang ia kabarkan, mentaati apa yang ia perintahkan dan menjauhi apa yang Ia larang dan Ia bentak. Janganlah menyelisihi perintahnya karena memperturutkan hawa nafsu atau karena kepentingan seseorang ataupun karena sebab-sebab lain. Sesungguhnya Allah telah berfirman:
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
(an-Nur : 63)
(Diterjemahkan dan diikhtisar dari sebuah tulisan di Qism 'Ilmi, Dar al-wathan Riyadh)
______________________________________________
[1] غير مصفح artinya menebas dengan mata pedang (membunuhnya) adapun memukul dengan punggung pedang artinya memberi pelajaran atau mendidik.
[2] Dayayits bentuk jamak dari dayyuts, adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap mahramnya. Dalam hadits disebutkan "
[3] Negeri yang dimaksud adalah Saudi Arabiah
صلاة إحداكن في مخدعها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في حجرتها أفضل من صلاتها في دارها وصلاتها في دارها أفضل من صلاتها في مسجد قومها وصلاتها في مسجد قومها أفضل من صلاتها معي
***&&***
Langganan:
Postingan (Atom)



